SEBUAH RENUNGAN

Jika Anda membaca postingan-postingan dari situs ini, mungkin Anda berpikir saya adalah seorang psikolog mudia berusia 25 tahun yang sedang menyelesaikan studinya. Atau Anda berpikir saya adalah seorang calon dokter muda yang begitu tertarik dengan dunia kejiwaan. Tetapi semua itu salah. Saya hanya seorang penggemar para motivator yang tersebar di penjuru dunia ini. Hal itu karena mereka selalu bisa membuat orang lain berpikir logis dan menempatkan sesuatu pada sisi positif. Mereka selalu bisa membuat orang lain merasa tenang karenanya.

Terutama big inspirator saya, yang selalu bersedia membimbing, membantu, dan menguatkan saya dengan kata-kata supernya, tentunya beserta tindakan-tindakan supernya yang mampu membuat saya selalu merasa berat untuk lepas darinya. Seseorang yang selalu memberikan semangat dengan berkata, “Jika kamu mau, kamu pasti bisa.” Sebuah kalimat sederhana, yang selalu bisa membuat saya mencapai segalanya yang saya impikan. Di kala banyak teman membenci dan memfitnah saya, hingga orang-orang di dekatnya pun berusaha menjatuhkan saya, ia masih tetap berkata, “Whatever they want to talk. Kau hanya perlu tidak peduli pada mereka. Biarkan saja, masih banyak orang lain yang lebih pantas menjadi temanmu dibanding  mereka.”

Yah, itu semua hanya satu per seratus dari keahliannya menguatkan orang-orang di dekatnya. Namun di sini saya tidak ingin membahasnya lebih jauh. Saya hanya ingin memberikan sebuah renungan yang pernah saya baca dari buku favorit saya karya Andreas Harefa bersama Hendri Bun berjudul “UBAH AMARAHMU JADI TAWA”.

Seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai dan memasukkannya ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh pewawancara. Dia pun mendapatkan pekerjaan tersebut. (Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan baik).

Image

 

Seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda tersebut, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil itu ditarik untuk bekerja di tempatnya. (Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja).

Seorang anak berkata kepada ibunya, “Ibu hari ini sangat cantik.”

Ibu menjawab, “Mengapa?”

Anak mennjawab, “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.” (Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu menahan amarah).

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata, “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.”

Petani menjawab, “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina ankku.” (Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja).

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya, “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?”

Ada yang menjawab, “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab, “Cari di rerumputan yang cekung di dalam.” Dan ada yang menjawab, “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat, “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.” (Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat).

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan, “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”

Katak di pinggir jalan menjawab, “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.”

Beberapa hari kemudian katak sawah menjenguk katak pinggir jalan dan menemukan temannya sudah mati dilindas mobil lewat. (Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja).

Segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya ada satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya, “Mengapa engkau begitu santai?”

Dia menjawab sambil tertawa, “Karena barang bawaan saya sedikit.” (Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah atau memiliki secukupnya saja).

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s