EURECLE !

Kali ini saya akan mencoba memberikan sebuah kisah beserta kupas tuntasnya yang dikutip dari sebuah buku motivasi karya Andi Arsyil Rahman Putra dalam karyanya “EURECLE! Anda dan Setiap Manusia Adalah KEAJAIBAN.”

Beberapa tahun silam, di sebuah desa, hiduplah seorang guru dan beberapa muridnya. Sang Guru, lelaki berjanggut panjang keperakan itu, memancarkan kewibawaan besar. Dia tampak duduk tenang dengan mata terpejam. Tangan kirinya terlihat menggenggam sebuah tongkat kayu bersisik, berwarna cokelat kehitaman. Ketika itu, Sang Guru memakai jubah warna putih. Di hadapannya, sekumpulan murid-muridnya duduk berkeliling membentuk setengah lingkaran. Mereka semua tampak menundukkan kepala.

Guru Ling. Demikian nama panggilan sang guru bijaksana, pengajar para raja dan pejabat istana. Dia kembali mengumpulkan murid-muridnya. Namun, tidak seperti hari-hari lain yang biasanya berkumpul di pinggir sungai, bukit, atau pelataran kuil, kali itu mereka berkumpul dekat sebuah kandang ternak. Tidak ada seorang pun yang tahu rencana hati Guru Ling. Di antara lenguhan dan bau ternak, guru dan murid itu terdiam dengan penuh khidmat.

Perlahan-lahan, Sang Guru mengangkat tangannya. Satu keeping talenta emas tampak terselip di antara ibu jari dan telunjuk beliau. Benda itu terlihat semakin berkilau ditimpa cahaya matahari. Para murid bergumam kebingungan.

“Anak-anakku,” Sang Guru pun mulai bicara, “jika aku mau memberikan benda ini, siapakah di antara kalian yang menginginkannya?”

Sekejap, semua mata memandang ke arah ujung jari Guru Ling. Sekeping talenta emas. Nilainya setara dengan  bayaran seratus hari kerja orang upahan. Sama sekali bukanlah jumlah yang sedikit. Serta merta belasan orang dalam kumpulan itu mengangkat tangannya.

“Saya guru…! Saya guru…!” seru mereka.

Sesaat Guru Ling tersenyum seraya mengelus janggutnya. “Hanya orang yang telah kehilangan akal sehatnya yang akan menolak pemberian satu keping talenta emas ini,” lanjutnya sambil menurunkan tangan.

Kemudian, tangan kiri Guru Ling bergerak mengambil sebuah mangkuk kecil di depannya. Cairan  berwarna merah kirmizi mengisi separuh mangkuk itu hingga beberapa saat. “Masihkah kalian menginginkan benda ini?” tanya Guru Ling sambil kembali mengacungkan keping emas yang telah berubah warna itu. “Tentu, guru!” jawab murid serempak.

Guru Ling memandangi kepingan berwarna merah pekat di tangannya. Lalu, tiba-tiba membuang keping emas itu ke permukaan tanah. Beberapa muridnya terlihat menggeser tempat duduknya menjauh. “Kau!” tunjuk Sang Guru ke arah salah satu muridnya, “Tampillah ke muka.” Orang yang ditunjuk segera menaati perintah gurunya.

“Ludahi keping emas itu!” perintah Sang Guru.

Murid itu tampak ragu. Dia memandang bergantian ke arah keping emas itu dan gurunya, memastikan apa yang didengarnya.

“Lakukan apa yang kuperintahkan!” kata Guru Ling sambil tersenyum. Segera setelah muridnya meludahi keping emas itu, Guru Ling kembali bertanya, “Masih kalian menginginkan emas itu?”

“Tentu saja guru!” kembali terdengar jawaban dari arah murid.

“Jika demikian, baiklah. Kau bertiga! Ludahi lagi dan injak-injak keping emas itu!!” perintah Sang Guru.

Ketiga orang itu pun melakukan persis seperti yang diperintahkan gurunya. Sekarang, keping emas itu telah berubah rupa. Permukaannya yang semula berkilau kini tak lebih merupakan benda kotor yang sangat menjijikkan. Sang Guru berdiri, mengibaskan jubahnya, kemudian berjalan menghampiri keping emas itu. Sesaat, dia memandangi benda itu kemudian ikut meludahinya.

“Anak-anakku, lihatlah benda yang menjijikkan itu! Masihkah ada seseorang di antara kalian yang menginginkannya?” kata Guru Ling.

“Tentu Guru, kami semua masih menginginkannya!” jawab mereka serempak.

Mendengar jawaban para murid, Guru Ling mengambil sebuah capit kayu.  Dia memungut benda itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Kini, dengarkanlah anak-anakku,” sang Guru pun bersabda, “kalian dan siapa pun akan tetap menginginkan keping emas itu karena bagaimana pun keadaan yang telah terlihat oleh mata kalian, sekeping talenta emas, tetaplah talenta emas!”

Murid-murid saling berpandangan, sebagian dari mereka tampak mengangguk-angguk membenarkan perkataan Sang Guru.

“Serupa dengan keping talenta emas ini,” Guru Ling melanjutkan, “diri kalian pun, senista, secacat, sehina apa pun, tetaplah mulia dan berharga. Kemiskinan, kecacatan, keadaan terkeji sekali pun tidaklah sanggup mengubah nilai seorang manusia. Manusia tetaplah manusia yang telah diciptakan demikian mulia.”

Image

 

Guru Ling memandangi murid-muridnya. “Seperti apa yang kujanjikan, aku akan memberikan keping talenta emas ini kepada siapa pun yang menginginkannya. Ambillah!” kata Guru Ling. Dengan satu gerakan, Guru Ling melemparkan keping emas itu ke dalam tumpukan kotoran ternak yang tampak menggunung. Segera saja keping talenta emas itu terbenam tak terlihat.

Guru Ling menjauh dari tempat itu, murid-muridnya yang berjumlah belasan itu merangsek masuk ke dalam kandanag. Mereka saling mendorong, berdesakan, saling impit. Beberapa orang terlihat bergulat dengan kotoran ternak. Lembu, kambing, dan domba berlarian keluar. Pagar kayu dan dinding kandang rusak berat.

“Hentikan! Rupanya kalian belum mengerti. Yang bertelinga hendaklah mendengar! Camkanlah apa yang kukatakan kepadamu hari ini dan belajarlah darinya!” seru Guru Ling.

“Sang Khalik, Pencipta kita, mengerti benar betapa berharga diri kita, manusia-manusia ini. Begitu juga dengan iblis-iblis jahat penghuni kegelapan, mereka juga tahu persis betapa mulianya kita. Satu-satunya yang sering tidak mengerti akan tingginya harga itu adalah kita, manusia itu sendiri. Manusia sering tidak mengetahui betapa mulianya dia diciptakan. Bahkan tidak jarang karena kebodohannya, manusia menukar kemuliaannya dengan sesuatu yang sama sekali tidak bergarga.”

Guru Ling melemparkan pandangannya ke arah tumpukan kotoran hewan di dekatnya lalu meneruskan perkataannya, “Jadi, mulai saat ini, jangan biarkan apa pun, siapa pun, bahkan hidup ini, mendustai kalian dan membuat kalian  seolah-olah sesuatu yang tidak berharga.”

Sang Guru menarik napas panjang lalu berteriak lantang, “Karena kalian jauh lebih mulia dari ribuan keping talenta emas!!”

Sebuah kata bijak hari ini :

Jika engkau lahir dalam kemiskinan itu bukan salahmu, tapi jika engkau mati dalam kemiskinan, itu sudah jelas salahmu.”

(Albert Einstein)

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s